Embarrassing Moment in Life

Hidup adalah pilihan, bahkan saat kita tidak memilih pun berarti kita sudah menentukan pilihan (untuk tidak memilih). Jadi pastikan pilihan kita tepat. Bisa dengan logika yang penuh alasan atau dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Apapun itu tentukan pilihan karena kalau tidak, kita bisa mendapatkan hal yang memalukan. OLEH: Hilbram Dunar.

            Pengalaman memalukan karena kurang tegas menentukan pilihan pernah saya rasakan sewaktu di SMA, saat hormon yang ada masih sulit diatur sehingga kadang-kadang yang kita lakukan juga ngawur (tapi memang itukan serunya masa SMA?).

            Seperti anak SMA pada umumnya, saya mulai merasakan suka sama perempuan ya waktu SMA. Dia adalah teman sekelas, inisial namanya V. Cantiknya memuaskan mata, keramahannya memuaskan rasa. Belakangan saya baru tahu kalau dia adalah artis, yang wajahnya sering muncul di majalah remaja dan film layar lebar. Saya sadar sih untuk disukai balik kemungkinannya kecil. Apalagi waktu itu persaingan untuk mendapatkan perhatian perempuan, modalnya materi atau bentuk diri dan dalam hal itu modal saya kurang mumpuni, tapi karena terlanjur suka dengan modal nekat saya dekati saja.

            Ajaibnya, V juga mau didekati, mungkin saya yang ke GR-an, tapi itulah yang saya rasakan. V lebih suka di dalam kelas kalau istirahat, saya pun menentukan pilihan untuk tidak keluar, sekadar ngobrol atau pura-pura mengerjakan tugas. V pun senang diajak ngobrol, bahkan kadang-kadang minta dibantu mengerjakan tugas. Jadi enggak salah dong kalau saya GR?

            Tapi perlu diingat ini adalah masa SMA ketika hormon yang ada masih sulit untuk diatur, apalagi di kelas sebelah ada seorang perempuan, inisialnya W, yang kalau pulang sekolah, diam-diam suka ngajak ngobrol, mulai dari urusan sekolah sampai alamat rumah. Saya sih senang saja, habis W ramah sih…eh tadi V juga ramah ya?

            W memang tidak secantik V, tapi ada sesuatu yang bikin saya ingat terus, istilahnya “gak cantik tapi ngangenin” nah! Mungkin gaya bicaranya, mungkin lirikannya, mungkin bentuk tubuhnya, pokoknya ada sesuatu! Jadi enggak salah dong kalau saya juga suka?

            Sampai pada suatu sore. Saya melihat V menunggu jemputan, saya pikir ini adalah kesempatan untuk mendekatkan diri atau siapa tahu bisa mendekatkan hati…ehm…

            “kok belum pulang?” pertanyaan biasa dengan harapan mendapat jawaban luar biasa.

            “iya, belum” ternyata jawabannya biasa saja

            “kasian, sampe kepanasan gitu nungguinnya”

Soalnya V  terlihat sibuk menguncirkan rambutnya sambil kipas-kipas pake kertas fotokopian

            “iya, panas banget sore ini”

            “gue beliin minum ya”

“boleh deh, yang dingin yaaa”

Langsung saya berlari masuk kantin pesan satu gelas soft drink dengan extra es batu. Ketika mau  balik keluar…ternyata ada W yang masuk ke dalam.

“hai, tumben belum pulang?” tanyanya

“iya nih, bentar lagi” jawab saya

“itu minum kamu?” Tanya W lagi

“iya, mau?”

Disinilah terjadinya kesalahan! Karena memilih untuk mendapatkan keduanya dengan modal seadanya.

“bagi dikit ya”

W meminum beberapa teguk, kemudian berlalu. Saya lihat, gelasnya masih lumayan penuh, jadi saya pikir pasti V gak tahu kalau ada yang minum. Lagian uang di kantong udah gak cukup untuk beli 1 gelas lagi.

Saya balik badan…dan ternyata…V sudah di belakang saya dari tadi dan dengan jelas melihat semuanya! Karena kaget campur malu, saya tidak punya persiapan untuk bilang apa-apa.

“eh, ini minumnya?” saya refleks memberikan gelasnya

Seperti sudah diduga sebelumnya, gak maulah V menerima minumnya dan W juga sudah berada dibelakang saya.

“Ooo, itu minumnya V ya? Tadi bilangnya minum elo, maaf ya gue minum”

Saya enggak bisa jawab apa-apa. Ketika saya mau menjelaskan ke V, dia sudah dijemput, naik mobil dan pulang.

Yang tersisa sekarang hanya saya, soft drink kurang penuh, dan rasa malu yang memberikan pelajaran bahwa pilihan itu ada untuk dipilih, bukan dibiarkan. Supaya tidak jadi pengalaman memalukan ;)

Hilbram Dunar – Penulis buku Plastic Heaven, Presenter TV dan Penyiar Radio

Tulisan ini dimuat pada majalah HER WORLD Indonesia, edisi Maret 2012

 

Addicted to drive, Addicted to you

"Aku udah sampe ya, nunggu di parkiran aja deh, gak masuk ke kantor kamu. Masih mau ngutak-ngatik mobil nih"

Begitu isi Blackberry Message ku sore itu, memasuki bulan kesekian dari hubungan Cinta kita yang majunya pelan-pelan. Gak apa2 pelan, asalkan bisa sampai di pelaminan. Kataku dalam hati menghibur diri.

 

"Ok, bentar ya. Masih ada kerjaan sedikit" begitu jawabmu.

                Buat aku tidak pernah ada masalah menunggu kamu, toh aku sudah menunggu kamu cukup lama untuk utarakan cinta, dan kamu pun butuh waktu yang tidak kalah lamanya untuk menerima Cinta. Sampai akhirnya kini kita bersama, mudah-mudahan bisa selamanya.

 

Selain itu satu hal lagi yang membuat aku tidak keberatan menunggu kamu, yaitu keindahan Peugeot 207 Sedan Sportium yang baru aku pergunakan hari ini. Tidak sama dengan orang yang baru jadian, dimana biasanya butuh banyak penyesuaian. Penyesuain dengan Peugeot 207 ini sangatlah mudah dan cepat, karena berbagai fitur yang mudah dimengerti. Setelah akhirnya jadi mengendaraimu -yang berawal dari rasa cinta pada pandangan pertama- akibat keindahan bentuk exterior, dimana kesan sportnya sangat kental, ditambah setiap lekuk desainnya membuat orang bedecak kagum. Secara tidak langsung Peugeot 207 Sedan Sportium ini mengingatkan aku padamu, yang tidak pernah berhenti membuatku membuat aku kagum.

 

Dan kini aku sedang mengagumi keindahan interiornya yang memberikan kenyamanan maksimal. posisi kursi yang bisa diatur senyaman mungkin, menjadikan aku bisa melihat dengan leluasa keluar, juga dengan mudah menyentuh setiap tombol dan instrumen yang diperlukan. Sama seperti aku yang selalu ingin menyentuh kamu, salurkan rasa dari Cinta yang lama terpendam dalam jiwa. Dan kalau instrumen di Peugeot 207 ini aku sentuh menyala, maka kamu pun demikian, kamu selalu menyalakan rasa yang tidak pernah aku pikirkan punya, kamu selalu…

 

Bzzz... Tiba-tiba BlackBerryku bergetar. Memang sengaja aku set ke vibrate mode, karena menikmati musik di mobil ini terasa maksimal tanpa gangguan bunyi BBM yang isinya broadacast message, SMS yang isinya penawaran kredit tanpa agunan, atau telpon yang isinya setengah memaksa untuk punya kartu kredit dan tetap mencoba walau aku sudah bilang kalau di dompet sudah punya lima.

 

"Aku udah di parkiran ya, mobil kamu dimana?" aku terima BBM, dari kamu yang belum tahu aku datang dengan Peugeot 207 Sedan Sportium, padahal kamu sudah berdiri persis di depan mobil aku, sangat indah untuk dilihat, sama dengan mobil ini yang tidak bosan untuk dilihat. Aku turunkan kaca mobil, lalu menyapa “Hai cantik, lagi nunggu siapa sih?”. Kamu menoleh, rambutmu terbias tertiup angin sore, sisa panas matahari yang sepanjang siang menyengat masih terasa, menciptakan bulir-bulir keringat di lehermu. Tapi aku tidak khawatir, begitu kamu masu ke Peugeot 207 ini, keringatmu akan segera hilang. Sistem otomatis di peralatan pendingin mobil ini akan menyala dengan tingkat hembusan yang kuat agar sesegera mungkin bisa mencapai temperatur yang diinginkan, dan 22 derajat celcius adalah temperatur yang aku siapkan untukmu.

 

“Waaah, mobilnya sudah datang ya? Bagus sekali!” katamu setelah melihat kearahku

“Mobil bagus untuk jemput orang yang bagus” jawabku  cepat

“Aku suka warna putihnya” katamu lagi

“Aku suka kamu semuanya” jawabku sepenuh hati

“Masuk dooong, biar liat dalemnya”

“Dalemnya apa?” tanyamu menggoda

“Apa aja deh, pokoknya masuk” jawabku minta digoda

 

Banyak sekali kata kekaguman yang kamu ucapkan setelah duduk di dalam Peugeot 207 Sedan Sportium ini, mulai dari kenyamanan tempat duduk, sampai keindahan interior, tapi yang paling tak tergambarkan dengan kata-kata adalah expresi muka kamu setelah kita berkendara. Kamu sangat menikmati ketenangan interior yang membuat suara berisik dari luar hampir tidak terdengar. Aku biarkan kamu terdiam, menikmati kenyamanan dan keamanan berkendara dengan airbags yang siap melindungi pengemudi dan penumpang. Lalu aku nyalakan radio, langsung terdengar suara Bruno Mars menyanyikan Just The Way You Are, …and when you smile, the whole world stop and stare for a while…, persis seperti yang aku rasakan setiap kali kamu tersenyum. Dan sekarang aku bisa melihat kamu tersenyum sambil ikut bernyanyi kecil. …cause you’re amazing, just the way you are.

 

Aku genggam tanganmu sepanjang jalan, terima kasih untuk transmisi otomatis yang memberikan banyak kemudahan. Lalu tanpa khawatir aku lewati beberapa ruas jalan yang tidak terlalu baik, karena sistem suspensi Peugeot 207 Sedan Sportium ini bekerja baik untuk memberikan kenyamanan. Memasuki jalan tol, kulepaskan genggaman tangan, untuk memindahkan transmisi ke semi otomatis, dimana dengan menaik turunkan tongkat transmisi, aku bisa mengatur perpindahan gigi untuk akselerasi yang maksimal. Kelincahan Peugeot 207 dalam kecepatan tinggi sungguh luar biasa, tidak terjadi over steer atau under steer saat melewati tikungan. Ditambah lagi setiap informasi mengenai mobil bisa ditampilkan di dashboard untuk memudahkan pengelihatan.

 

Sebuah kenyamanan berkendara yang maksimal dari Peugeot 207 Sedan Sportium, membuat aku menikamati setiap saat bersama kamu, baik dalam kemacetan kota, ataupun dalam kecepatan jalan bebas hambatan, dan akupun bisa melihat nyamannya kamu sambil menikmati musik dalam keheningan dan keamanan interior.

 

Peugeot 207 membuatku ketagihan untuk terus mengemudi, kamu membuatku ketagihan untuk terus mencintai.

 

I’m addicted to drive, I’m addicted to you!

Reuni

“Pacar belum ganti, Bro?” begitu pertanyaan yang sering ditujukan kepada aku akhir-akhir ini, memasuki usia ke tujuh, hubungan kita yang harusnya semakin jauh, melangkah lebih jauh, berpikir lebih jauh, berencana lebih jauh, atau apapun itu asalkan tidak malah menjauh.

Sebenarnya aku sudah siap dengan pertanyaan seperti ini, apalagi aku mendatangi reuni kampus, dimana hampir semua temanku kenal kamu, pacarku sejak masih kuliah dulu. Tapi entah kenapa walaupun siap, tetap saja ada rasa aneh di hati kalau harus menjawab.

Sahabatku sewaktu kuliah yang satu ini memang terkenal dengan spontanitasnya dalam bertanya atau mengungkapkan apa apa yang dia rasa, tanpa ragu-ragu dia akan ucapkan apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin itu yang menjadikan dia aktivis semasa kuliah dulu, seorang yang lantang bicara, dan hampir selalu hadir di setiap demo mahasiswa lengkap dengan orasi yang membakar semangat masa, sampai sekarang dia menjadi kader partai politik yang sering muncul di televisi, sibuk mengkritik kebijakan pemerintah, tapi diam saja kalau ada teman satu partainya divonis bersalah karena korupsi. “itu oknum” katanya kalau ditanya…blah..

Kembali ke pertanyaan sahabatku ini, diam-diam aku berharap mendapatkan jawaban spontan yang bisa menjelaskan teka-teki hati yang terpatri selama tujuh tahun dengan seorang wanita sederhana yang senyumnya selalu bisa mengobati semua luka dan tawanya selalu bisa hadirkan bahagia.

Tapi entah kenapa aku berpikir sejuta kali kalau harus melanjutkan hubungan ke tahap lebih jauh…

                “Emang harus ganti ya?” tanyaku balik bertanya.

 “ya kalau begitu-begitu terus mendingan putus lah bro”

                “Apanya yang begitu-begitu terus? Aku selalu menemukan hal-hal baru untuk dinikmati kok”

                “Tapi kan kalau pacaran harus menikah”

                “Lalu setelah menikah harus apa? Harus punya anak? Harus punya dua anak? Harus punya anak laki-laki dan perempuan? Harus punya  cucu?”

                “Lha? Memangnya loe gak mau punya itu semua?”

                “Belum bro! yang gue mau sekarang adalah punya Cinta”

              Dan memang, walau sudah tujuh tahun bersama, aku merasa tidak sehari pun cinta kami berkurang. Sejak pertama kami bertemu, ketika cinta terasa seperti menggunakan seragam putih abu-abu, waktu masih melirik malu-malu, lalu utarakan Cinta tanpa ragu, dan kamupun mengangguk setuju.. ah indahnya masa lalu…

                Masa sekarang juga sebetulnya indah, apalagi kalau tidak ada pertanyaan-pertanyaan  soal melangkah ke hubungan yang lebih jauh. Karena kamipun masih menikmati cinta seperti dulu. Cinta yang selalu hangat walau termakan usia. Cinta yang selalu indah karena saling setia. Cinta yang mulai menua tapi selalu bikin bahagia, walau terkadang kebahagiaan saja tidaklah memuaskan.

                Tapi toh, laki-laki memang sulit puas. Paling tidak untuk tiga hal, alat elektronik, mobil mekanik dan perempuan cantik, karena selalu ada model baru yang menunggu.

                Sementara yang aku tunggu adalah kesiapan hati untuk mengajakmu menikah dan hidup bersama, dalam bahagia, sampai takdir memisahkan kita. 

Plastic Heaven

"Plastic Heaven" adalah judul dari buku pertama saya yang akan segera terbit. Bercerita tentang cinta yang bisa bikin dunia terasa seperti surga atau neraka.

Buku ini adalah kumpulan cerita cinta dari kehidupan sehari-hari, yang sering jadikan manusia lupa diri akibat janji sehidup semati atau nafsu mendapatkan nikmat setengah mati.

"Plastic Heaven" mudah-mudahan bisa anda baca sambil terus menikmati cinta yang ada, apapun bentuknya.

Karena bukan cinta kalau tidak keluarkan air mata akibat sedih luar biasa atau bahagia tak terhingga.

Jadi apa arti cinta untuk anda?

@HilbramDunar

 

Dancing With Stranger

Asap rokok yang mulai penuhi ruangan berubah jadi kabut yang sejuk menghibur.
Lampu warna-warni yang terang bersinar terlihat seperti ratusan bintang yang turun dari langit temani orang-orang yang tidak berhenti tertawa.
Aku juga ikut tertawa, tapi jangan tanya alasannya, karena aku lupa alasan mengapa aku tertawa, yang jelas aku bahagia dan selalu ingin tertawa.

Lalu kau ada disampingku melirik, tersenyum, bahagia, menari bersama...
Aku tidak ingat kau datang dari mana, yang pasti kau ada seperti bulan yang muncul tiba-tiba ketika hujan mereda dan awan gelap pergi entah kemana.

Entah berapa lama situasi ini terjadi, aku tidak tahu dan tidak mau tahu, yang kutahu jarak kita semakin mendekat, cukup dekat untuk pura-pura bersentuhan tanpa sengaja yang pelan-pelan mulai dinikmati seperti tulus dari dalam jiwa.

Walau ada ratusan orang yang ikut menari disekitar kita, tapi aku merasa hanya kita berdua yang menari bersama, terasa semakin akrab, terasa semakin dekat, terasa semakin nikmat.

Waktu berlalu, kau masih disampingku, walau sudah menari bersama, tetap tidak ada kata yang terucap. Hanya senyum sederhana dari bibir setengah terbuka dan tatapan bermakna dari mata setengah terpejam. Seperti terbang sambil menari… berlebihan memang, tapi rasanya memang begitu...

Waktu berjalan terus tanpa peduli akan jeritan hatiku yang meminta untuk berhenti. Sementara kau dan aku semakin dekat. Sekarang sudah tidak ada lagi jarak diantara kita, tapi tak pernah dengan jelas kau kutatap wajahmu, karena kebersamaan denganmu lebih indah dinikmati dalam ketidak jelasan.

Walau begitu aku bisa merasakan kecantikanmu, aku yakin cantikmu cukup untuk isi hatiku yang kosong ditelan malam.
Ingin kusapa dirimu, tapi mulutku tidak bergerak, hanya pikiranku yang bicara
“Hai..”
“Hai juga…” kaupun tidak berbicara, tapi jelas kudengar kau membalas sapaanku dalam benakku.

Pagi semakin dekat, jarak kitapun semakin rapat..entah berapa kali sentuhan kita lakukan tetap tanpa ada kata yang terucap, hanya pikiran kita yang saling bicara…

“Kamu cantik sekali” pikiranku mulai merayu
“Makasiih… kamu juga keren! menyenangkan sekali ya?” pikiranmu bicara kepikiranku
“Kamu jangan jauh-jauh doong” pikiranmu berkata manja
“Nggak kok, emang kalau aku jauh kenapa?” Tanya pikiranku
“Aku senang disamping kamu” jawab pikiranmu
“Aku juga senang menyentuh kulitmu, kulit kamu halus banget sih”
“Ih… kamukan belum sentuh semua kulitku”
“Hmm…iya ya…”

Lalu pembicaraan terhenti sejenak… terpotong musik yang tiba-tiba meminta perhatian lebih untuk dinikmati sambil menari…

“Kamu punya tato?” pikiranmu memulai pembicaraan lagi
“Ada, kenapa?” Tanya pikiranku
“Mau lihat doong”
“Gak bisalah aku tunjukin disini”
“Jadi dimana dong aku bisa lihat? biar kamu juga bisa lihat kulitku”
“Kalau udah lihat terus gimana?”
“Ya terserah gimana… kamu maunya gimana?”
“Maunya nikmati kulit halus kamu”
“Hihihi, yuk…”

Pembicaraan terus berlangsung dipikiranku, langsung dengan pikiranmu. Semakin akrab, semakin hangat, semakin  nikmat”

Sampai saatnya kita mengakhiri semuanya, lalu berpisah, seiring lampu terang menyala dan saatnya kembali ke realita.

Malam yang sempurna, setidaknya dalam pikiran kita…

Tidak ada nama, tidak ada usia
Tidak ada ragu, tidak ada masa lalu
Tidak ada cerita, tidak ada bahasa
Tidak ada status, tidak ada kenangan yang harus dihapus

Yang ada hanya kamu, aku dan pikiran kita, ditengah musik yang membawa terbang sambil menari.

Dulu, sekarang, nanti

Aku rindu pada waktu. Waktu yang berjalan lambat, seperti jarum detik pada jam tangan yang enggan bergerak, suatu malam di tempat tidur kamar hotel murah yang jadi mahal karena kebersamaan rasa, yang ditunggu sekian lama.

Tapi itu dulu...

Aku rindu pada masa. Masa yang mudah setuju akan tawaran kebahagiaan, tanpa meminta bayaran berupa pedih, sedih atau apapun yang mengatas namakan pengorbanan.

Tapi itu dulu...

Aku iri pada cinta. Cinta yang dibiarkan tertawa tanpa ada paksaan dari logika, sementara seluruh indera setuju untuk menerima nikmat tanpa harus membuat syarat.

Aku mau itu sekarang...

Aku iri pada nafsu. Nafsu yang seenaknya datang tanpa ada penghalang dan bisa bebas pergi tanpa ditangisi, karena tahu bahwa akan segera kembali lagi.

Aku mau itu sekarang...

Aku tersenyum pada  janji. Janji yang terucap dari rasa yang tersisa, walau tahu kenyataan tidak lagi sama dan kepentingan entah kenapa mulai berkuasa.

Mungkin itu nanti...

Aku tersenyum pada harapan. Harapan yang berjalan menjauh perlahan, sambil tebarkan jutaan kenangan yang seharusnya aman tersimpan dalam hati yang tetap hangat tanpa api.

Mungkin itu nanti...

Dulu, sekarang, nanti

Kamu, aku, rasa di hati

Gelap

“Biarkan tetap gelap…, aku belum mau kehilangannya
Biarkan tetap gelap…, supaya bisa kudekap erat tubuhnya sambil kunikmati wajah yang tenang terlelap
Jangan dulu terbit matahari…, aku belum mau ditinggal pergi
Jangan dulu terbit matahari…, supaya bisa kukecup keningnya  lalu hadir dihatinya  walau hanya sebatas mimpi”

Begitu aku berdoa setiap kali kau bisa habiskan malam bersamaku. Satu-satunya waktu dimana kebahagiaan muncul seperti tanpa alasan.
Aku tidak pernah tahu kenapa? Yang pasti setiap kali bersamamu aku bahagia. Walau berkali-kali kau sakiti aku dengan pergi sendiri tanpa alasan, tanpa tujuan, tanpa perasaan, toh aku tetap tersenyum gembira setiap kali kau telpon aku lalu mengajak bertemu. Sekedar temani makan siang, atau lanjut sampai lupa diri sepanjang malam.

Bersamamu memang bisa bikin aku lupa diri, lupa akan harga diri yang seharusnya dijaga tinggi sekali.
Tapi aku tidak bisa lupa akan takutnya hati bila suatu saat nanti kau benar-benar pergi, aku tidak berani membayangkan bagaimana sakitnya ditinggalkan, sehingga walau kau menegaskan bahwa kebersamaan bukanlah sebuah kemungkinan, aku tetap menyimpan harapan.
Harapan bahwa suatu saat kau merasa cintaku cukup besar dari sekedar jadikan diriku teman tidur semalam, atau teman tempat kau tumpahkan perasaan marah akan dunia ditengah malam buta. Dimana aku selalu bisa tenangkan hatimu, redakan resahmu.
Mungkin itulah yang membuatku ingin terus habiskan waktu denganmu seperti malam ini…

Diawali dari kedatanganmu selepas sore, tanpa kabar, tanpa berita, kau muncul dengan membawa bunga…
Bunga yang bukan diperuntukkan untukku, tapi bunga yang selalu kau bawa untuk menghias rumahku.
“Rumahmu terlalu dingin tanpa bunga” begitu alasanmu setiap kali kau datang dengan bunga yang selalu kau letakkan di vas kosong di samping TV plasma yang lebih sering jadi hiasan karena kita lebih sering habiskan waktu dalam kamar dibanding di depan TV.

“Ada apa ?” tanyaku kaget melihat dirimu yang tiba-tiba hadir didepan pintu rumahku dengan mata berair entah karena menahan sedih, kecewa atau marah atau gabungan semuanya
“Tidak apa-apa….aku hanya ingin bertemu kamu, boleh masukkan?” tanyamu…

Kau memang selalu tertutup, tidak pernah dengan jelas merinci kegundahan hatimu, tapi sepertinya aku selalu bisa menenangkan segala macam permasalahan yang menganggu hidupmu.

“Silahkan…” jawabku..
Setelah sekian minggu tanpa berita, kini kau hadir lagi di rumahku. Bukannya marah lalu membenci, aku malah tersenyum dan merasa senang melihatmu sekali lagi.
“Apa kabar kamu ? I miss you so...” katamu sambil memelukku..
Aku diam saja, walau diam-diam aku menikmati hangat pelukmu
“Kamu kemana saja sih? kok menghilang sejak terakhir kita bertemu?” tanyaku setelah kau masuk, dan kusuguhkan teh hangat penuh cinta. Teh yang katamu membuat dirimu tergila-gila padaku…(aneh teh kok bisa bikin tergila-gila..tapi toh aku menikmati saja pujianmu).
“Iya maaf lagi sibuk sekali…” jawabmu singkat sambil meneguk teh bikinanku
“Sibuk untuk sekedar membalas bbm?" tanyaku cepat
Kau mulai terusik…
”Iya” hanya itu yang keluar dari mulutmu
“Oh ok… and how are you now dear” aku enggan mempermasalahkan kesibukanmu, aku cukup senang melihatmu…dan terus terang aku juga rindu padamu
“Not so good… I need you…” suaramu memelas atau pura-pura memelas… aku tidak peduli
“Apa yang bisa aku bantu?” tanyaku..

Kau tersenyum… Aku tersenyum… Lalu malam pun berlalu…
Dan kita berbagi rasa dalam gelap, sampai terlelap…

Lalu aku terbangun menjelang pagi, dengan rasa takut akan kau tinggal pergi…